Penilaian portofolio dan angket siswa

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah tentang “Pengembangan Instrumen Evaluasi Jenis Non–Tes” ini dapat diselesaikan tepat waktu. Sholawat dan salam tetap tersanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang telah membimbing kita umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang yakni ad-Dinul Islam.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Evaluasi Pembelajaran dan juga agar dapat memberikan pemahaman mengenai Pengembangan Instrumen Evalusi Jenis Non-Tes. Di samping itu, makalah ini diharapkan bisa mengisi khazanah keilmuan Evaluasi Pembelajaran.

Berpegang pada prinsip “Tak ada gading yang tak retak” dan tidak ada istilah final dalam ilmu, maka kami menyadari bahwa makalah ini bukan karya final. Oleh karena itu, dengan segala senang hati, kritik dan saran sangat diharapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Tak lupa kami sampaikan kepada seluruh rekan yang telah membantu penyusunan makalah ini terutama kepada dosen pembimbing kami, yaitu Dr. Sunismi, M.Pd. sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Amien.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

Malang, Oktober  2011

 

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar ………………………………………………………………………………

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………..

Bab I               PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ……………………………………………………………

1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………..

1.3 Tujuan ……………………………………………………………………

Bab II             PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tekhnik Non-tes ……………………………………………………

1)      Pengertian Angket ……………………………………………………

2)      Pengertian Observasi …………………………………………………

3)      Pengertian Wawancara ………………………………………………

4)      Pengertian  Portfolio …………………………………………………

5)      Daftar cocok …………………………………………………………

 

Bab III            PENUTUP

  1. Kesimpulan …………………………………………………………..
  2. Kritik dan Saran ………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa, pengelola sekolah,lingkungan,kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya (Suhartoyo, 2005). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistemevaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan sistem pembelajaran yang baik akanmenghasilkan kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaian yang baik akanmendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk  belajar yang lebih baik (Mardapi, 2003).

Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan baik, namun mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas proses pembelajaran itu sendiri.Dalam makalah ini, kami menyajikan beberapa hal tentang teknik evaluasi yang dapat digunakan dalam penilaian terhadap anak didik, baik itu tentang kemampuan belajar, sikap, keterampilan, sifat, bakat, minat dan kepribadian.

Adapun teknik yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah teknik non-tes. Salah satu teknik yang sangat membantu dalam penilaian terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan siswa. Sehingga dapat membantu proses evaluasi dengan hasil baik sesuai dengan output yang diharapkan.

 

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian dari Instrumen Evaluasi bentuk Non-Tes?
  2. Sebutkan macam instrumen evaluasi bentuk Non-Tes?
  3. Bagaimana pengertian dari masing-masing macam instrumen Non-Tes tersebut?
  4. Apa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing instrumen Non-Tes terebut?

 

1.3 Tujuan

  1. Dapat mengetahui pengertian dari Instrumen evaluasi bentuk Non-Tes
  2. Dapat menyebutkan macam instrumen evaluasi bentuk Non-Tes
  3. Dapat menjelaskan pengertian dari masing-masing macam instrumen Non-Tes
  4. Dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Alat Evaluasi Bentuk Non-Tes

 

Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Kata “alat” bisa diartikan dengan istilah“instrumen”. Dengan demikian alat evaluasi juga dikenal dengan instrument evaluasi.

 

Secara garis besar, proses evaluasi dikatakan baik apabila hasil atau outputnya baik dan sesuai dengan tujuan proses belajar dan begitu juga sebaliknya dikatakan kurang baik jika proses dan hasilnyapun kurang begitu memuaskan bahkan buruk. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara atau teknik yang sesuai dan tepat agar hasil atau outpunnya sesuai dengan tujuan proses belajar. Cara atau teknik tersebut biasa sering kita kenal dengan “teknik evaluasi”.

 

Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, teknik evaluasi ada dua, yaitu teknik tes dan teknik non-tes. Dan khusus pada kesempatan kali ini kita dituntut lebih untuk bagaimana menjelaskan dan menguraikan tentang bentuk evaluasi non-tes.

 

Penilaian dapat berarti teknik evaluasi, sedangkan teknik evaluasi dalam bentuk non-tes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes melainkan penilaian secara langsung maupuntidak langsung baik itu berupa wawancara, pengamatan atau lain sebagainya. Tehnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Semua itu, berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok. Alat penilaian yang non-tes, yang biasanya menyertai atau inheren dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat banyak macamnya. Di antaranya bisa disebutkan seperti observasi (baik dengan cara langsung, tak langsung, maupun partisipasi), wawancara (terstruktur atau bebas), angket (tertutup atau terbuka), sosiometri, checklist, concept map, portfolio, pertanyaan-pertanyaan, skala bertingkat dan sebagainya.

 

Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif  psikomotor.

 

Adapun instrument evaluasi jenis non-tes antara lain sebagai berikut :

 

1)      Kuesioner (Questionair)

Kuesioner juga biasa disebut dengan istilah “angket”. Pada dasarnya angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). Pada umumnya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka.

 

Tentang macam angket, dapat kita tinjau dari beberapa aspek antara lain:

a)      Dari aspek siapa yang menjawab, maka terbagi menjadi dua yaitu:

(1) Kuesioner langsung, kuesioner dapat dikatakan langsung jika kuesioner tersebut dikirim dan diisi secara langsung oleh orang yang akan dimintai jawaban tentang dirinya.

(2) Kuesioner tak lansung, jika kuesioner tersebut dikirim dan diisi oleh bukan orang yang dimintai keterangannya. Semisal mencari informasi tentang bawahan, orang tua, anak, saudara, teman, dan lain-lain.

b)      Dari segi cara penyampaian dalam menjawab, maka ada:

(1) Angket tertutup adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada jawaban yang dia anggap sesuai.

(2) Angket terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapatnya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui.

c)  Ditinjau dari strukturnya, angket dapat dibagi menadi 2 macam, yaitu:

(1) Angket berstuktur adalah angket yang bersifat tegas, jelas, dengan model pertanyan yang terbatas, singkat dan membutuhkan jawaban tegas dan terbatas pula.

(2) Angket tidak berstruktur adalah angket yang membutuhkan jawaban uraian panjang, dari anak, dan bebas. Yang biasanya anak dituntut untuk memberi penjelasan- penjelasan, alasan-alasan terbuka. Angket sebagai alat penilaian terhadap sikap tingkah laku, bakat, kemampuan, minat anak.

 

Langkah-langkah menyusun angket yaitu:

1)      Merumuskan tujuan

2)      Merumuskan kegiatan

3)      Menyusun langkah-langkah

4)      Menyusun kisi-kisi

5)      Menyusun panduan angket

6)      Menyusun alat penilaian

 

Kelebihan dan kekurangan angket atau kuesioner antara lain:

F Kelebihan angket antara lain:

1)      Dengan angket kita dapat memperoleh data dari sejumlah anak yang banyak yang hanya membutuhkan waktu yang singkat.

2)      Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan yang sama

3)      Dengan angket, pengaruh subjektif dari guru kepada anak dapat dihindarkan.

F Kelemahan angket, antara lain:

1)      Pertanyaan yang diberikan melalui angket adalah terbatas, sehingga apabila ada hal-hal yang kurang jelas maka sulit untuk diterangkan kembali

2)      Kadang-kadang pertanyaan yang diberikan tidak dijawab oleh semua anak, atau mungkin dijawab tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena anak merasa bebas menjawab dan tidak diawasi secara mendetail.

3)     Adakemungkinan angket yang diberikan tidak dapat dikumpulkan semua, sebab banyak anak yang merasa kurang perlu hasil dari angket yang diterima, sehingga tidak memberikan kembali angketnya.

 

2)      Pengamatan (Observation)

Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakuya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan berupa data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Observasi dapat dilakukan pada berbagai tempat misalnya kelas pada waktu pelajaran, dihalaman sekolah pada waktu bermain, dilapangan olah raga dan sebagainya.

 

Observasi mempunyai beberapa karateristik, antara lain:

a)      Mempunyai arah dan tujuan yang jelas.

b)      Bersifat ilmiah

c)      Terdapat berbagai aspek yang akan diobservasi

d)     Praktis penggunaannya

Selanjutnya Good dkk mengemukakan enam ciri observasi, yaitu:

1)      Observasi mempunyai arah yang khusus

2)      Observasi ilmiah tentang tingkah laku

3)      Observasi bersifat kuantitatif

4)      Observasi mengadakan pencatatan dengan segera

5)      Observasi meminta keahlian

6)      Observasi dapat di cek dan dibuktikan untuk menjamin keahlian ( C.V. Good,A.S.Barr, and D.E.Scates, 1936)

Dilihat dari kerangka, observasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

1)   Observasi berstruktur ,yaitu semua kegiatan guru sebagai observer telah di tetapkan terlebih dahulu berdasarkan kerangka kerja yang berisi faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya.

2)      Observer tak berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai observer tidak dibatasi oleh suatu kerangka kerja yang pasti.

 

     a. Cara dan Tujuan Observasi

Menurut cara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam:

1)      Observasi partisipatif dan nonpartisipatif , Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan Observasi Nonpartisipatif, observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya dengan kata lain evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka. Contoh observasi partisipatif seperti guru mengamati setiap anak. Kalau observasi nonpartisipatif, guru hanya sebagai pengamat, dan tidak ikut bermain.

2)      Observasi sistematis dan observasi nonsitematis ,Observasi Sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur sruktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati. Sedangkan Observasi Nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan diamati. Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mengamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasamadan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga. Kalau observasi nonsistematis maka guru tidak membuat kategori-kategori diatas, tetapi langsung mengamati anak yang sedang menanam bunga.

3)      Observasi Eksperimental, Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakuka secara nonpartisipatif tetapi sistematis. Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan.

 

Sebagai alat evaluasi , observasi digunakan untuk:

F Menilai minat, sikap dan nilai yang terkandung dalam diri siswa.

F Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa maupun kelompok.

F Suatu tes essay secara obyektif tidak dapat menunjukan seberapa kemampuan siswa dapat menjelaskan pendapatnya secara lisan, dalam bekerja kelompok dan juga kemampuan siswa dalam mengumpulkan data.

 

b. Sifat Observasi

Observasi yang baik dan tepat harus memilki sifat-sifat tertentu yaitu:

1)      Hanya dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran.

2)      Direncanakan secara sistematis.

3)      Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan.

4)      Dapat diperika validitas, rehabilitas dan ketelitiaanya.

 

c. Langkah-langkah menyusun observasi

Langkah-langkah menyusun observasi anatar lain :

1)      Merumuskan tujuan

2)      Merumuskan kegiatan

3)      Menyusun langkah-langkah

4)      Menyiapkan kisi-kisi

5)      Menyusun panduan observasi

6)      Menyusun alat penilaian

 

d. Kelebihan dan Kelemahan Observasi

Observasi sebagai alat penilaian nontes, mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:

1)      Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak.

2)      Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala atau kejadian yang penting

3)      Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mencek data yang diperoleh dari teknik lain, misalnya wawancara atau angket

4)      Observer tidak perlu mengunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran. Selain keuntungan diatas, observer juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

1)      Observer tidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorang yang sangat dirahasiakan. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi. Misalnya mengamati anak yang menyanyi, dia kelihatan gembira, lincah. Tetapi belum tentu hatinya gembira, dan bahagia atau mungkin sebaliknya, dia sedih dan duka tetapi dirahasiakan.

2)      Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang

3)      Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dapat dikontrol sebelumya.

 

3)      Wawancara (Interview)

Wawancara, suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informasi yang hendak digali. wawancara dibagi dalam dua  kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia ketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informasi-informasi yang diperlukan saja.

 

Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :

1)      Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Dalam hal ini hendaknya pewawancara dapat menyesuaikan diri dengan orang yang diwawancarai

2)      Keterampilan pewawancara, keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil wawancara yang dilakukan, karena guru perlu melatih diri agar meiliki keterampilan dalam melaksanakan wawancara

3)      Pedoman wawancara, keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat oleh guru sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat pedoman-pedoman secara terperinci, tentang pertanyaan yang akan diajukan.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan guru sebagai pewawancara yaitu:

1)      Guru yang akan mengadakan wawancara harus mempunyai background tentang apa yang akan ditanyakan

2)      Harus menjaga hubungan yang baik

3)      Guru harus mempunyai sifat yang dapat dipercaya

4)      Pertanyaan hendaknya dilakukan dengan hati-hati, teliti dan kalimatnya jelas

5)      Hindarkan hal-hal yang dapat mengganggu jalannya wawancara.

 

Langkah-langkah penyusunan wawancara :

1)      Perumusan tujuan

2)      Perumusan kegiatan atau aspek-aspek yang dinilai

3)      Penyusunan kisi-kisi

4)      Penyusunan pedoman wawancara

5)      Lembaran penilaian

 

Kelebihan dan kelemahan wawancara

F Kelebihan Wawancara Yaitu

1)      Wawancara dapat memberikan keterangan keadan pribadi hal ini tergantung pada hubungan baik antara pewawancara dengan objek

2)      Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya

3)      Wawancara terhadap keadaan individu responden lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan dengan observasi dan angket.

4)      Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancaradengan objek. Sedangkan Kelemahan wawancara seperti :

1) Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan, kemampuan individu yang   diwawancarai

2) Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar pelaksaan wawancara

3) Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari pewawancara

4) Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat mempengaruhi hasil wawancara

 

4.) Portfolio

Portfolio adalah kumpulan hasil pekerjaan siswa dalam suatu topik tertentu. Isi portfolio dapat berupa data, analisis data, gambar, diagram, contoh-contoh, problem solving, kuis dan lain lain. Dalam pengerjaan portfolio memungkinkan siswa untuk menunjukkan kemampuannya. Contoh portfolio yang paling sederhana adalah map dengan kumpulan-kumpulan bukti yang dapat berupa :

1)      Artefact , yaitu dokumen yang dihasilkan selama proses belajar seperti laporan praktikum, pekerjaan rumah, proyek penelitian

2)      Reproduksi, yaitu bisa berupa foto, film, artikel, buku, dan sebagainya

3)      Attestation (pengesahan), yaitu semacam dokumen siswa yang disahkan oleh orang lain seperti guru dan teman

4)      Produksi, yaitu dokumen yang khusus dibuat untuk pengerjaan portfolio.

 

Struktur portfolio ini meliputi :

1)      Tema/Judul

2)      Tujuan

3)      Daftar isi

4)      Bukti-bukti dan keterangannya

5)      Kesimpulan

 

Refleksi Dengan struktur seperti itu, bisa dikatakan bahwa portfolio adalah semacam paper atau lembar kerja, bisa juga semacam kliping yang berisi tentang pembuktian terhadap topik yang ditugaskan oleh guru. Hanya saja dalam proses pengerjaannya siswa selalu dapat berkonsultasi dengan guru tentang bukti-bukti yang mendukung dari topik yang dipilih. Bukti-bukti itu bisa berupa artefact, reproduksi, attestation, dan produksi. Dengan demikian dari waktu ke waktu guru bisa menilai kemajuan dan kemampuan siswa dalam mencari bukti pendukung terhadap suatu topik yang ditugaskan.

 

Hal terpenting dari kerja portfolio adalah kemampuan siswa memberikan atau menjelaskan bukti-bukti yang diperoleh (struktur ke 4 dari portfolio). Dari penjelasan siswa ini guru akan mengetahui betul kemampuan siswa di dalam menjawab suatu masalah dengan bukti pendukungnya. Disamping itu, refleksi dari siswa (struktur ke 5 dari portfolio) juga sangat membantu guru untuk mengetahui akan kemampuan mengekspresikan tema yang ada di dalam aplikasi atau pengembangan keilmuan berikutnya. Penjelasan dan bukti-bukti yang disusun siswa bisa juga disajikan dalam bentuk concept maps.

 

5.) Daftar Cocok (Check list)

Yang dimaksud dengan daftar cocok (check list) adalah deretan pertanyaan pendek dan sederhana, dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok (√) di tempat yang sudah disediakan.

Contoh:

      Berilah tanda (√) pada kolom yang sesuai dengan pendapat saudara.

No.

Aktivitas

Sangat Penting

Penting

Kurang Penting

1.

Kuliah

2.

Berorganisasi

3.

Kerja

4.

Mengerjakan Tugas

5.

Refressing/nge-Game/Shopping

 

Adabeberapa pendapat yang mengatakan bahwa sebenarnya skala bertingkat dapat digolongkan ke dalam daftar cocok karena dalam skala bertingkat, responden juga diminta untuk memberikan tanda cocok pada pilihan yang tepat.

Skala bertingkat adalah skala yang menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan. Sebagai contoh pemberian skor diberikan siswa oleh guru untuk menggambarkan indeks/tingkat prestasi belajar siswa tersebut atau lain sebagainya.

Contoh :

Penyajian skala sikap yang coba digambarkan kepada seseorang siswa dalam kecenderungannya terhadap jenis aktivitas tertentu.

 Refressing             Kerja                  mengerjakan tugas                         Kuliah                    Organisasi

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

 

Teknik evaluasi non-tes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Tehnik evaluasi ini umumnya untuk menilai keperibadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidkan baik individual maupun secara kelompok. Tekhnik non-tes terdiri atas ; Observasi (pengamatan), Wawancara (interview), Angket(Questionnair), Pemeriksaan Dokumen (Dukomentary Analisis), dan Sosiometri. Tiap-tiap metode penilaian memiliki kelebihan dan kekurangan, tetapi pada dasarnya dapat diterapkan (disesuaikan) pada semua mata pelajaran pada sistem belajar mengajar kita.

Akhirnya, aktivitas penilaian yang baik adalah identik dengan aktivitas pengajaran yang baik .Mengacu klasifikasi domain tujuan pendidikan menjadi domain kognitif, afektif, dan psikomotor, maka untuk mencapai tujuan ketiga domain tersebut diperlukan instrumen yang valid untuk mengukur pencapaian ketiga domain tersebut. Pengukuran domain afektif tidak semudah mengukur domain kognitif. Pengukuran domain afektif tidak dapat dilakukan setiapsaat karena perubahan tingkah laku peserta didik dapat berubah sewaktu-waktu. Pembentukan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama.Untuk mengukur domain afektif dan sebagian psikomotor diperlukan pengembangan instrumen evaluasi non-tes (alternative test ). Pengembangan instrumen ini relatif lebih sulit dibandingkan dengan pengembangan instrumen evaluasi tes. Untuk itu, diperlukan kajian yang seksama dalam menurunkan serta menjabarkan domain afektif ke dalam aspek-aspek yang spesifik untuk dapat mengembangkan instrumen yang valid dan reliabel.

Adabeberapa alat penilaian yang sering digunakan dalam penilaian. Alat tersebut adalah skala penilaian, daftar cek, catatan anekdot, dan catatan kumulatif.

Demikian yang dapat kami simpulkan. Pastinya dari setia individu berbeda dari cara dan teknik penyimpulan, yang terpenting tidak merusak makna dan inti dari pembahasan mengenai Instrumen Atau Alat Evaluasi Bentuk Non-Tes. Terimakasih disampaikan.

 

B. Kritik dan Saran

            Dengan kebesaran hati kami buka sebesar-besarnya segala bentuk kritik dan saran yang membangun demi kemaslahatan ummat. Setiap apa yang telah kita buat tidaklah sesempurna Maha Karya Allah SWT. Maka pantaslah kiranya kita mengharap dengan sangat. Sekian dan terima kasih kami sampaikan.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Arifin, Zaenal, Drs. Evaluasi Pembelajaran.Jakarta

Ali Imron.1996. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta : Pustaka Jaya

Ariteunto, Suharsimi. 1993. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.Clarke, David.1997.Constructive Assesment in Mathematics.Berkeley USA : KeyCurriculum press Daryanto. 2001. Evaluasi Pendidkan.Jakarta : PT. Rineka CiptaDepdikbud. 1987. Penilaian dalam Pendidikan.

Sinar Baru Algesindo. Qomari, Purwokerto. 2008. Pengembangan Instrumen Evaluasi DomaiAfektif. Purwokerto.Insania.

Slamela. 1988, Evaluasi Pendidikan.Jakarta: PT. Bina Aksara

Perth WASudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta: PT. Raja

Grafindo. Sutomo. 1985. Teknik Penilaian Pendidikan.Surabaya : PT. Bina Ilmu

Swan, Paul. 1995.

Cross Section Journal , November 1995, Vol. 7 No. 5.

Perth, WAWahyono, Tries Edy. 2009. Evaluasi dan Penilainan

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.