SOLEH

Karya dan aktor : Rufi Anvara

PEKSIMINAL & PEKSIMINAS 2010

So….!,So….!,So…!,So….leh….!?

Soleh!!!

Tiada yang tau,tiada ada yang mengira, tiada yang merasa, kalau semua ini akan singgah di dunia. Ketakutan, keberanian, kesenangan, kesedihan,  kehawatiran, kebimbangan, kepastian, telah mengantarkan semua untuk hidup dalam dunia.

So….!,So….!,So…leh…!?

Soleh….!!!

Lantunan azan yang membisik ditelinga kananku, telah jadikan tuntunan hidupku. Dan seruan iqomah ditelinga kiri telah mengantarkanku berkelana

dalam dunia

So….!,So….!,So…leh…!?

Soleh….!!!

.Aku perfikir. Kenapa dunia ini ada…

Banyak orang melihat, semua orang mendengar, tapi tak lagi bias merasa.

Hai…..! apa kau tak melihat.

Hai…..! apa kau tak mendengar dan merasa.

Seorang anak kecil merintih kesakitan menahan perutnya lapar. Dan seorang kakek-kakek terbalut kakinya disebrang jalan, menunggu uluran tangan para dermawan, hanya sebuah kehidupan.

Dimanakah kasihmu, dimanakah sayangmu, cintamu?

Peluk cinta kasih sanyang sang bunda sudah tak lagi memberikan kehangatan dalam jiwaku, karma kedurhakaanku.

So….!,So….!,So…leh…!?

Soleh….!!!

Waktu telah tiba…..!!

Usiaku  menginjak dewasa. Aku bermain dengan waktu, waktu telah memainkanku, waktu yang selalu mengejarku, waktu yang membawaku kesini….berjalan kesana kemari, hanya sebuah emosi dan ilusi.

Dunia yang panas telah aku jalani.

Malam yang gelap aku salami.

Siang yang gelap gulita telah aku telusuri.

Matahari yang terbit dari sebelah timiur dan tenggelam disebelah barat, telah aku jadikan petunjuk perkelanaanku. Dan akhirnyapun aku terdiam, terdiam ditengah jalan yang penuh dengan lalulalang kendaraan. Tiba-tiba ada seorang kake-kake bilang kepadaku,hai…hai anak muda, apa kamu tidak tau disebelah kanan kirimu banyak kendaraan berlalulalang?aku pun sama sekali tak menghiraukan perkataan sang kakek itu, aku terus terdiam, terdiam….sengatan matahari telah merubah kulitku, keringatku habis…terperas panasnya dunia. Akupun jatuh tersungkur, badanku tergores aspal jalanan, darahku menetes,mengalir membuat tanda sepanjang aku melangkah.

Keringat bercampur darah, darah bercampur keringat, mengalir di pipi sebelah kananku, memasuki lubang kecil mulutku yang gemetar….namun mengapa kau memaksaku untuk terus berjalan…!

Apa kau tak melihat…!

Apa kau tak nendengar…!

Apa kau tak merasa…..kau berada ditengah kematian.

*SEKIAN*

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s