Menatap Senja di Hatimu

Siapa tahu aku lupa, namamu kutulis di langit senja. Siapa tahu aku lupa, langit senja yang penuh goresan namamu kulipat, kusimpan erat-erat. Tidak disini, tidak! Namamu kusembunyikan dalam-dalam, dalam hatiku. Siapa tahu aku lupa, namamu ada di hatiku.

Kau bilang suatu hari, “Terima kasih telah menyimpan namaku, tapi boleh tidak kuambil kembali namaku dari hatimu?”

Kubilang di suatu hari yang sama, “Kau pikir hatiku tempat penitipan barang?”

Kau pikir demi hati siapa hatiku menyisakan ruang selama bertahun-tahun? Yang kulakukan hanyalah menyimpan sebuah nama dalam langit senja, apakah itu masih terlalu banyak untukmu? Aku tak pernah meminta, bahkan sedikit saja dari hatimu. Tak pernah. Dan tak akan pernah!

Masih selalu tinggi. Hati yang sangat tinggi. Terlalu tinggi.

“Hatiku tak pernah bisa menyamai tingginya hatimu…” katamu kemudian.

Mungkin. Kau tak tahu saja, hati yang bertahun-tahun menyimpan langit senja dengan sebuah nama, bukanlah hati yang luas. Sulit untuk bernapas!

“Karena itu, biarkan aku bawa saja langit senja itu ya?!”

Langit senja yang penuh nama. Satu nama yang sama. Yang kulipat, kusimpan erat-erat. Hanya jika aku lupa, baru akan kubuka. Itu saja yang kupunya. Akankah itu juga kau bawa? Jiwa ini pernah jatuh cinta, cinta sepenuh jiwa. Tapi akhirnya malah sakit jiwa. Yang tersisa tinggal hati. Maka jangan biarkan aku sakit hati!

Rasanya tak ada yang bisa kau lakukan selain membiarkanku menyimpan langit senja di sudut hati yang semakin rapat tersekat. Kubilang, “Aku yang menggoresi langit senja ini dengan sebuah nama, maka aku juga yang akan menghapus nama itu dari langit senja yang sama.”

***

Hari-hari selanjutnya, aku terlalu giat menghapus cepat-cepat langit senja yang penuh nama. Siapa tahu aku lupa, langit senja tak selalu perlu sebuah nama.

“Apa yang kau lakukan?” ujar senja.

“Menghapus nama. Tak bisa kau lihat?” jawabku.

“Tapi kenapa?” ujar senja lagi.

Aku tak menjawab.

Langit senja tampak muram, lalu katanya, “Tahukah kau, aku merasa nyaman kau sapa dengan nama itu.”

“Kau hanya perlu pembiasaan,” jawabku.

Dan dalam dua hari saja langit senjaku tak lagi penuh dengan namamu. Tapi, ada yang tak biasa. Ada yang tak ada.

 

***

Seorang wanita paruh baya duduk menatap senja. Dia tampak bahagia. Ujarnya, “Selamat ulang tahun, senja!”

Senja tak menjawab, hanya balas menatap.

Wanita paruh baya itu meniup lilin dengan angka 63 diatas sebuah kue coklat yang cantik. Dalam hati ia berkata, padahal usiaku baru 61. Dia lalu memotong kue coklat yang dibawanya itu sesaat sebelum senja benar-benar hilang ditelan malam. Setiap tahun wanita paruh baya itu meniup lilin yang berbeda sebanyak dua kali; ulang tahunnya sendiri dan ulang tahun seorang pria yang disebutnya langit senja semasa ia masih muda. Wanita paruh baya itu terkikik sendiri. Sudah setua ini, aku masih belum waras juga!

Senja telah benar-benar hilang sekarang. Setelah makan sedikit kue coklat yang dipotongnya, wanita paruh baya itu merapatkansweater sulamnya, dan bergegas masuk ke sebuah rumah yang terang karena lampu yang menyala dari ruang tengahnya.

Seorang lelaki -yang juga paruh baya- menatapnya sedari ia menatap senja yang baru menampakkan warna-warnanya yang gemilang, hingga wanita paruh baya itu menghilang masuk ke dalam sebuah ruangan yang terang.

“Siapa suruh aku tak bisa membiasakan diri tak menatap senja.” ujar wanita paruh baya itu pada dirinya sendiri, setelah akhirnya dia masuk dan duduk dengan nyaman di sebuah kursi empuk di ruang tengah rumahnya.

Ia menatap langit senja yang penuh bekas gores tulisan tangannya yang tampak menempel pada dinding-dinding ruang tengah rumahnya. Langit senja itu tampak seperti sebuah lukisan berukuran super besar (mengingat langit senja itu memenuhi lebih dari setengah dinding ruang tengahnya). Langit senja, yang saat orang-orang melihatnya mengatakan itu sebuah karya besar. Ya, tentu saja karya besar, langit senja ini bukan lukisan. Ini benar-benar langit senja yang diambil wanita paruh baya itu semasa muda, saat ia pertama kali jatuh cinta. Tapi tak ada yang percaya. Setiap orang yang melihat langit senja itu selalu berkata, nenek tentunya sudah pikun karena menganggap lukisan langit senja sebagai langit senja beneran.

Ya, sudah kalau nggak percaya. Akhirnya sang nenek tak ambil pusing jika orang-orang menganggapnya telah pikun. Aku mungkin memang telah pikun. Karena aku sama sekali lupa apa yang kutulis dalam langit senja itu. Ada goresan tulisan tanganku disitu, aku yakin sekali. Ujar sang nenek pada dirinya sendiri. Ia yakin langit senja itu pernah ia goresi dengan sebuah kata yang sama dan ia tulis berulang-ulang tapi, tak pernah ingat apa yang ditulisnya. Ya sudahlah, barangkali aku benar-benar sudah lupa.

Siapa tahu aku lupa, aku telah memikirkan kemungkinan bahwa aku benar-benar menggoresi langit senja di dinding ruang tengahku dengan sebuah kata yang sama dan kutulisi berulang-ulang. Begitu tulis wanita paruh baya itu dalam sebuah note, yang ia sebut buku pengingat.

Tapi, aku benar-benar ingat bahwa hari ini adalah ulang tahunmu yang ke-63. Begitu wanita paruh baya itu menambahkan dalam buku pengingatnya. Tak lama setelah itu, ia pun terlelap dalam tidur.

***

Aku terlalu terburu-buru saat memutuskan menghapus namamu dari langit senjaku. Aku tahu aku pasti lupa. Dan memang aku lupa. Hatiku memang tinggi seperti katamu. Tapi kau tak pernah tahu hati ini hanya mau menyisakan ruang untukmu. Dan hanya untukmu. Maka meski telah kuhapus, kau tak pernah benar-benar hilang dari hidupku. Sama seperti langit senja di dinding ruang tengahku. Namamu, meski kuhapus tetap menyisakan jejak. Maka jangan minta aku untuk beranjak. Aku tak tahu lagi baagaimana aku akan berpijak.

Senja masih berwarna sama. Tapi usiaku tak lagi sama. Telah banyak yang aku lupa. Tapi jelas jejak belum beranjak.

Usiamu telah menjadi 63 kemarin, dan aku masih ingat, eh. Tahun ini kubuatkan kue coklat untukmu, tahun sebelumnya kue keju, tahun sebelumnya lagi aku lupa. Tahun depan, apa aku masih akan ingat ulang tahunmu? Hehehe. Tahun depan aku mungkin akan benar-benar pikun. Iya, pikun! Karena hingga detik ini pun aku tetap tak ingat namamu. Kenapa aku justru ingat ulang tahunmu? Pikun!

“Masih menatap senja di usia senja, eh?” seorang lelaki paruh baya tiba-tiba saja duduk disebelah tempatku duduk.

“Ya, sekedar melanjutkan pembiasaan yang tak pernah bisa dihentikan” ujarku sambil tersenyum.

Kuperhatikan, lelaki paruh baya itu mengenakan kacamata. Badannya masih tegap, tapi rambutnya telah memutih. Wajah yang termakan usia, tapi masih kencang karena banyak tertawa. Dia mengenakan T-shirt berkerah dan celana pendek. Masih terlihat sehat, meski perutnya terlihat agak buncit sedikit. Sepertinya usianya tak jauh beda denganku.

“Pernah melihat langit senja yang mengukir nama?” lelaki itu bertanya.

Hahaha… ternyata ada yang lebih pikun dariku! Mana ada hal seperti itu?

Dia menangkap ekspresi tak percaya dari air mukaku, lalu katanya, “Dulu sekali, langit senja mengukir namaku hampir setiap hari!”

Aku yang idiot atau dia yang tak waras? Mana ada senja yang mengukir nama???

“Setiap hari, saat senja tiba, saat aku menatapnya, dia mengukir namaku, selalu. Menatapku lekat.” ujarnya lagi.

Ok, mungkin aku yang idiot. Kenapa dia serius sekali?

“Hingga kukatakan padanya, aku tak hanya ingin ditatap. Dia jadi jarang sekali datang.”

“Bodoh!” ucapku. Aku tak tahu ucapan ini kutujukan untuk siapa.

Lelaki itu diam.

“Perlu hati yang penuh untuk mengukir nama dalam sebuah langit senja.” Kalimat ini meluncur begitu saja dari mulutku.

“Aku tahu, akhirnya.”

“Lama sekali!” ucapku. Menatapnya, aku tahu aku belum pikun, belum terlalu setidaknya. He.

Langit senja sebelumnya tak pernah telihat seasing sore ini. Atau aku yang membuatnya terlihat asing?

“Maaf, aku hanya ingin menyimpanmu di hatiku, itu saja.”

“Maaf, aku justru memintamu mengembalikan apa yang tak pernah kau ambil.”

Diam.

“Dan maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama.” katamu lagi.

Dan tak pernah sebelumnya kurasa senja yang sehangat senja sore ini, sehangat air yang mengalir di pipi.

***

Hidup ini, kupikir, punya banyak pembiasaan. Dan beberapa diantaranya agak sulit dihentikan. Atau memang diciptakan untuk tidak berhenti?

“Ada pembiasaan yang terus, ada juga yang berhenti.” ujarmu.

“Hmm, bisa kulihat, kau berhenti makan kolestrol tinggi.”

Hehehehe…

Lelaki paruh baya itu terkekeh. Atau sebaiknya kusebut, Al terkekeh.

Langit senja sore itu terlihat lebih gemilang dari sore-sore biasanya. Ada pembiasaan yang berhenti. Dan ada juga yang dimulai. Aku tak lagi sendiri menatap senja sore hari.

“Akan kupastikan, kau berhenti meniup lilin ulang tahun dua kali.” ujar Al lagi.

Aku tak beranjak. Goresan tulisan tangan di langit senjaku seakan kembali terbaca. Dan benar, dalam langit senja itu hanya ada satu kata yang ditulis berulang-ulang. Langit senja yang penuh dengan satu nama yang sama, namamu.

“Ulang tahunku yang ke-64, aku ingin rasa mocca.” ucap Al sambil melahap kue coklat buatanku.

Ada pembiasaan yang dimulai hari ini. Apa juga termasuk pembiasaan yang diciptakan untuk tidak berhenti?

Menatapmu di senja hatiku.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s