PSSI di Tangan Orang Asing

Jakarta – Lebih dari dua dekade, tim nasional Indonesia tidak lagi mengecap gelar juara di ajang kompetitif. Trofi terakhir yang ada di lemari PSSI berasal dari medali emas cabang sepakbola SEA Games 1991.

Dalam dua dekade kegagalan itu, sepakbola Indonesia justru dipenuhi oleh aneka carut-marut manajemen. Mulai dari penggabungan kompetisi semi pro dan profesional yang tidak disertai dengan studi kelayakan hingga tatanan pembinaan sepakbola yang tak jelas.

Alih-alih mengakui kegagalan, PSSI dengan “santai” menempuh jalan pintas. PSSI memulangkan para pemain muda berdarah Indonesia yang berada di Eropa guna memperkuat timnas Indonesia. Sebagian ditegaskan ke-Indonesiaan-nya, sebagian lagi diberi paspor berlogo burung Garuda.

Di sisi lain, para pemain muda Indonesia yang tak pernah punya kompetisi reguler kelompok umur berjenjang di sini justru dikumpulkan dan diberangkatkan ke Uruguay, Amerika Selatan. Untuk apa? Tentu saja, untuk mengikuti kompetisi kelompok umur di Uruguay.

Kenapa biaya mereka “sekolah” di Uruguay tidak digunakan untuk membangun kompetisi anak muda di Indonesia?

Keanehan sepakbola Indonesia sempat pula diwarnai dengan adanya wasit asing di kompetisi nasional. Liga Indonesia dan Liga Primer Indonesia sama-sama pernah menggunakannya. Situasi itu semakin memperjelas bahwa ada kegagalan dalam manajemen sepakbola nasional. Mencetak pemain bagus gagal, mencetak wasit yang bisa handal pun tak mampu.

Jalan pintas kesekian yang sungguh absurd!

Lalu bila wasit asing dan pelatih asing lazim digunakan serta pemain asing diubah menjadi pemain Indonesia, mengapa tidak sekalian menyerahkan kepengurusan PSSI kepada orang asing. Jadi, kita bisa pamer kepada orang luar bahwa sepakbola Indonesia punya paket asing.

Kebanyakan orang Indonesia masih menganggap apa-apa yang asing itu keren. Ketika kompetisi Indonesia menggunakan wasit asing, baik di Liga Indonesia maupun Liga Primer Indonesia, para pelaku di lapangan bisa bersikap baik. Tak ada protes berlebihan. Apalagi sampai memburu bak serigala lapar seperti yang biasa dialami oleh para wasit lokal.

Lazimkah menggunakan orang asing untuk mengurus sepakbola nasional? Dalam tatanan pengurus inti federasi memang tidak umum. Bahkan belum pernah ada. Major League Soccer (MLS) hanya menyewa tenaga dari Bundesliga Jerman sebagai konsultan. Sebaliknya, Bundesliga mengajak orang-orang Amerika untuk berbagi pengetahuan tentang sport showbiz. FA Singapura mendapat tandem orang Inggris sebagai mitra konsultasi. Atau Vietnam yang didukung oleh saran teknis dari Prancis.

Semuanya sebatas konsultan. Bukan pengurus federasi. Bukan pembuat dan pemegang kebijakan sepakbola nasionalnya.

Tetapi sepakbola Indonesia anomali dan tidak baik-baik saja. Mempercayakan pengelolaan sepakbola nasional kepada para pengurus lokal di PSSI ternyata sudah dua puluh tahun terbukti tidak berdaya guna dan gagal. Mereka justru terkesan lebih ahli beradu opini di media massa ketimbang membuat sepakbola nasional bercitra positif. Belum lagi tontonan serial sinetron tentang perebutan kekuasaan nan tak kunjung usai.

Organisasi sepakbola memang sering disebut sebagai negara kecil. Tetapi demi apa sampai gontok-gontokan memperebutkan kepengurusan di sebuah organisasi bernama PSSI?

Dengan kehadiran orang asing sebagai pengurus, sepakbola Indonesia mungkin dapat berubah positif dan selanjutnya berharap ada prestasi nyata. Pertama, mereka tidak berafiliasi dengan kepentingan politik. Kedua, orang asing biasanya profesional. Mereka biasanya bukan orang yang senang ngobyek atau mementingkan dirinya sendiri.

Ketua PSSI (yang asing) pasti akan hemat berbicara kepada media massa. Ketua Bidang Kompetisi (yang asing) pasti lebih senang bicara kepada bawahannya di kantor dari pada terus menerus menjalani tugas sebagai media officer atau juru bicara. Ketua Liga (yang asing) pun demikian. Dia lebih suka mengawasi ketimbang berbangga diri di depan pers secara rutin. Bila pers bertanya soal timnas, juga bukan Ketua Bidang Timnas yang menjawab. Singkatnya, sedikit bicara banyak bekerja.

Dengan kehadiran orang asing di PSSI, siapa tahu sepakbola Indonesia menjadi lebih tenang tanpa keributan para pengurus dan mantan pengurus yang bising nan sumbang. Siapa tahu kita bisa punya cetak biru piramida sistem pembinaan sepakbola Indonesia. Siapa tahu kompetisi berjenjang benar-benar terwujud dan bukan cuma jadi pepesan kosong di media massa. Siapa tahu sponsor berbondong-bondong masuk ke sepakbola nasional yang tak pernah sepi penonton itu. Siapa tahu klub Indonesia yang (katanya) pro itu akhirnya dipimpin dan diurus oleh orang-orang berkompeten dan bukan oleh pegawai negeri dengan seragam departemen dalam negeri bermental tarkam.

Tapi itu semua tidak lumrah! Belum pernah ada orang asing urus federasi sepakbola sebuah negara! Setidaknya di jaman modern saat ini.

Bagaimana kalau menempuh jalan tengah? Misalnya menaturalisasi pengurus sepakbola Jerman, Jepang, Inggris dan Italia. Cukup 10 orang. Beri mereka paspor Indonesia.

Percuma. Bila sudah menjadi orang Indonesia, mereka bisa terkontaminasi.

Jadi, apa boleh bikin. Sepakbola Indonesia memang tidak lumrah. Sekalian saja dibuat tidak normal. Anggap saja ini sebuah pertandingan karena dengan diurus oleh orang lokal pun sepakbola kita tak ke mana-mana. Kita bandingkan hasilnya. Mana yang lebih bagus; pengurus asing atau pengurus lokal? Kita tak akan rugi apa-apa. Toh, sudah 20 tahun sepakbola nasional tak berprestasi.

==

sumber:sport.detik.com
Twitter:@hedi//@r_rufi

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s