S1 Harus Mampu Menulis

KEBIJAKAN Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait kewajiban publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswa, perlu diapresiasi. Mahasiswa program sarjana wajib publikasi karya ilmiah di jurnal ilmiah, mahasiswa  program magister di  jurnal ilmiah nasional, dan mahasiswa program doktoral di jurnal ilmiah internasional.
Motif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh, terkait kebijakan itu ada tiga hal. Pertama, sebagai upaya menekan plagiarisme. Kebijakan publikasi karya ilmiah ini, diyakini Nuh mampu mengontrol apakah suatu karya ilmiah orisinal atau  plagiat. Kedua,  sebagai pengembangan keilmuan. Dan  ketiga,  untuk mempercepat pengembangan keilmuan tersebut.

Data menunjukkan, sejak 1996-2011 jumlah karya ilmiah Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal internasional hanya 12.871. Indonesia tertinggal jauh dengan publikasi karya ilmiah negara tetangga, Malaysia, yang mencapai 53.691. Maka, kebijakan itu dibuat demi mengejar ketertinggalan itu.
Bagi mahasiswa lulusan angkatan agustus-september tahun 2012, diwajibkan untuk membuat dan mempublikasikan jurnal karya ilmiyahnya.
Kebijakan itu sontak menjadi perdebatan dari berbagai kalangan. Pasalnya, minimnya kuantitas jurnal ilmiah menjadi kendala bagi Perguruan Tinggi (PT). Di Indonesia hanya ada 121 jurnal yang terakreditasi Ditjen Dikti.

Romo Franz Magnis-Suseno SJ, misalnya, menolak dengan tegas kebijakan itu. Dalam tulisannya “Dikti di Seberang Harapan” yang dimuat Harian Kompas beberapa waktu lalumenilai kebijakan tersebut sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan dengan  paksaan dan ancaman. Mahasiswa diancam tidak lulus jika karya ilmiahnya tak menembus jurnal.

Baginya, motivasi kepada masyarakat kampus, baik para dosen maupun mahasiswa lebih ampuh untuk mengangkat mutu intelektual.

Namun, hemat saya, kebijakan ini sangat positif. Kebijakan publikasi karya ilmiah ini sangat bagus untuk memicu mahasiswa menulis. Sepantasnya, tradisi menulis mahasiswa digalakkan. Selama ini mayoritas mahasiswa menulis ketika hanya ada tugas pembuatan makalah bahkan tak sedikit dikerjakan secara kelompok.

Hanya saja butuh waktu cukup lama untuk menerapkan kebijakan ini. Pasalnya, banyak mahasiswa yang belum mampu menulis artikel populer, apalagi menulis karya ilmiah yang baik. Ini akan menyulitkan pihak PT untuk merealisasikan kebijakan tersebut.(afianty & anvara)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s