Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Head Together untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Menyelesaikan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Siswa Kelas VIII B MTs Al-Ma’arif 01 Singosari Malang Tahun Pelajaran 2011/2012. Masrufi, Zainal Abidin, Ettie Rukmigarsari.

Abstrak: tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan metode pembelajaran kooperatif model numbered head together dapat meningkatkan pemahaman materi menyelesaikan sistem persamaan linier dua variable siswa kelas VIII B MTs Al-Ma’arif 01 Singosari Malang tahun ajaran 2011/2012. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa hasil observasi, hasil wawancara, dan hasil catatan lapangan dengan analisis data yang digunakan yaitu:  (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Sedangkan data kuantitatif berupa hasil tes akhir siklus dengan analisis data dari perolehan rata-rata kelas dan nilai persentase jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran yaitu 75% siswa mendapat nilai ³ 70. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) tes; 2) Observasi; 3) wawancara; dan 4) catatan lapangan.

 

Kata-kata kunci: kooperatif, numbered head together, pemahaman.

 

  1. 1.      Pendahuluan

Pendidikan juga merupakan upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang melibatkan peserta didik/siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya, yang dilakukan untuk  mencapai tujuan tertentu, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum  dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi, pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Agar siswa  dapat mencapai  tujuan pendidikan yang telah ditentukan, maka diperlukan wahana yang dapat  digambarkan sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. Dengan demikian pembelajaran matematika merupakan kegiatan pendidikan yang menggunakan matematika sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Matematika merupakan mata pelajaran yang diajarkan di setiap jenjang sekolah. Dalam kurikulum sekolah, tercantum  salah satu tujuan  pengajaran matematika yaitu siswa dapat memahami konsep matematika dan menggunakan pelajaran matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam proses pembelajaran matematika harus ditekankan pada proses penguasaan konsep-konsep dasar, karena konstruksi pengetahuan berhubungan erat dengan pengetahuan awal. Menurut Hudojo (2005:73) penyajian konsep atau ide matematika yang baru harus didasarkan pada pengalaman yang terdahulu karena siswa akan mengingat konsep-konsep baru lebih baik bila konsep baru itu tidak bertentangan dengan konsep yang telah dikenal sebelumnya. Dengan demikian pemahaman yang salah terhadap suatu konsep akan berakibat pada kesulitan untuk memahami konsep-konsep berikutnya. Oleh sebab itu diperlukan suatu strategi pembelajaran yang sesuai. Selain itu agar siswa tertarik dan berminat mempelajari matematika, pembelajaran sedapat mungkin menyenangkan (tidak tegang), siswa dapat melihat makna matematika dalam kehidupan, menghargai perbedaan individual, menghargai pendapat siswa atau melatih kematangan sosial (Marpaung, 2005:1).

Menurut Abdurrahman & Bintoro (dalam Nurhadi dkk, 2004:61) pembelajaran kooperatif  (cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata yang  di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait, elemen-elemen tersebut antara lain: 1) saling ketergantungan positif , 2) interaksi tatap muka, 3) akuntabilitas individual, 4) keterampilan menjalin hubungan antar individu.

Pembelajaran kooperatif model numbered head together merupakan sebuah varian diskusi kelompok, ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya, tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya itu. Dengan langkah-langkah sebagai berikut (Nurhadi dkk, 2004:67); 1) Penomoran (numbering), 2) pengajuan pertanyaan (questioning), 3) berfikir bersama (head together), 4) pemberian jawaban (answering).

Untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi menyelesaikan system persamaan linier dua variabel, terlebih dahulu seorang guru dituntut untuk menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan serta melibatkan siswa aktif. Proses pembelajaran tersebut  dimulai dari bagaimana siswa memahami suatu konsep, sehingga jika siswa sudah faham tentang konsep menyelesaikan system persamaan linier dua variabel, maka dipastikan akan lebih mudah memahami prosedurnya.

Berdasarkan konteks penelitian di atas, maka fokus penelitian yang dapat diambil adalah ”Pembelajaran kooperatif  model numbered head together untuk meningkatkan pemahaman materi menyelesaikan sistem persamaan linier dua variabel siswa kelas VIIIB MTs Al-Ma’arif 01 Singosari Malang Tahun pelajaran 2011/2012”.

 

  1. 2.      Pembahasan dan Hasil Penelitian.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan pengamatan langsung di dalam kelas, diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata matematika kelas VIIIB masih tergolong rendah, dengan rata-rata kelasnya adalah . Sedangkan SKBM yang dipakai yaitu . Hal ini bisa dilihat dari nilai ulangan pada meteri sebelumnya dengan nilai rata-rata kelasnya 64,28 dan proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas masih didominasi oleh guru.

Berdasarkan kondisi di atas, maka peneliti merencanakan pembelajaran matematika dengan menerapkan strategi pemecahan masalah Solso, hal ini dilakukan peneliti untuk meningkatkan pemahaman materi menyelesaikan mistem persamaan linier dua variabel siswa kelas VIII B MTs Al-Ma’arif 01 Singosari Malang Tahun pelajaran 2011/2012.

Dari uraian di atas, peneliti merencanakan pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan pembelajaran model numbered head together diterapkan dalam empat langkah kegiatan;

1)    Langkah 1 – Penomoran (numbering)

Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 6 orang dan memberi mereka nomor sehingga setiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor yang berbeda.

2)   Langkah 2 – Pengajuan pertanyaan (questioning)

Guru mengajukan pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum.

3)   Langkah 3 – Berpikir bersama (head together)

Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.

4)   Langkah 4 – Pemberian jawaban (answering)

Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dari nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan  jawaban untuk seluruh kelas.

Dalam setiap tindakan yang diambil, peneliti harus memperhatikan dengan cermat tentang beberapa komponen dalam PTK yaitu perencanaan (planning) I, pelaksanaan tindakan (acting) I, observasi (observing) I, dan refleksi (reflecting) I. Dimana keempat komponen tersebut harus menjadi satu kesatuan utuh yang nantinya dipandang sebagai satu siklus.

Untuk menentukan kriteria keberhasilan dalam penelitian ini, peneliti melaksanakan proses pembelajaran dua siklus. Dalam hal ini penentuan kriteria keberhasilan ada 2, yaitu;

a)    Keberhasilan dari segi proses, guru dikatakan melaksanakan pembelajaran dengan baik jika guru melaksanakan ≥ 80 langkah-langkah pembelajaran yang ada pada lembar observasi. Selanjutnya, siswa dikatakan dapat mengikuti pembelajaran dengan baik jika selama pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa mencapi nilai  baik pada lembar observasi siswa maupun lembar keaktifan siswa.

b)    Keberhasilan dari segi hasil, siswa dikatakan tuntas dalam penelitian ini jika sudah memenuhi kriteria ketuntasan yang telah ditentukan dalam penelitian ini. Kriteria ketuntasan dalam penelitian ini jika rata-rata tes hasil belajar siswa ≥ 70 dan ≥75 % siswa mendapatkan nilai ≥ 70.

Adapun hasil analisis data penerapan metode pembelajaran kooperatif model numbered head together dalam penelitian ini dapat di uraikan sebagai berikaut;

  1. Analisis Data Kualitatif

a)      Hasil Observasi Kegiatan Guru

Diketahui bahwa hasil observasi pembelajaran peneliti ini, berdasarkan hasil lembar observasi kegiatan guru, persentase keberhasilan penerapan metode kooperatif model numbered head together pada siklus I sebesar 75%, dengan taraf keberhasilan berhasil. Pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 11,66% yaitu menjadi 86,66%, dengan taraf keberhasilan sangat berhasil.Hasil Observasi Aktivitas Siswa

b)      Hasil observasi siswa

Diketahui bahwa hasil observasi pembelajaran peneliti ini, berdasarkan hasil lembar observasi terhadap kegiatan siswa, persentase keberhasilan penerapan metode kooperatif model numbered head together pada siklus I sebesar 81,78%, dengan taraf keberhasilan sangat berhasil. Pada siklus II sedikit mengalami peningkatan sebesar 2,50% yaitu menjadi 84,28%, dengan taraf keberhasilan sangat berhasil.

c)      Hasil  Observasi Keaktifan Siswa

Diketahui bahwa hasil observasi pembelajaran peneliti ini, berdasarkan hasil lembar observasi keaktifan siswa, persentase keberhasilan penerapan metode kooperatif model numbered head together pada siklus I sebesar 80% dengan taraf keberhasilan adalah berhasil, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 3,94% yaitu menjadi 83,94%, dengan taraf keberhasilan sangat berhasil.

 

d)     Hasil Catatan Lapangan

Diketahui bahwa hasil observasi pembelajaran peneliti ini, berdasarkan hasil catatan lapangan, dapat disimpulkan bahwa siswa sudah mengikuti pembelajaran dengan baik, dengan indikasi kelas semakin kondusif, siswa lebih aktif berdiskusi dan antusiasme siswa terhadap pembelajaran model numbered head together

e)      Hasil Wawancara

Diketahui bahwa hasil observasi pembelajaran peneliti ini, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap enam siswa setiap akhir siklus, yang terdiri dari dua siswa berkemampuan tinggi, dua siswa berkemampuan sedang, dan dua siswa berkemampuan rendah. Dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami peningkatan pemahaman dan antusias dengan metode pembelajaran model numbered head together.

  1. Analisis data kuantitatif

Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah hasil tes akhir siklus. Adapun penjelasan mengenai data kuantitatif adalah sebagai berikut:

a)      Hasil tes akhir siklus

Tes akhir siklus dilaksanakan pada akhir siklus I dan siklus II setelah penerapan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran kooperatif model numbered head together selesai. Paparan hasil analisis tes secara umum adalah sebagai berikut;

Diketahui bahwa hasil belajar siswa pada siklus I adalah dengan nilai rata-rata kelas 67,05 dan sekitar 66,67% siswa yang tuntas pada pembelajaran menyelesaikan sistem persamaan linier dua variabel ini. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 17,94% didapatkan nilai rata-rata kelas mencapai 77,82 dan 84,61% siswa tuntas pada pembelajaran menyelesaikan sistem persamaan linier dua variabel dengan taraf keberhasilan sangat baik.

 

 

  1. 3.      Kesimpulan dan Penutup

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif model numbered head together dapat meningkatkan pemahaman materi menyelesaikan sistem persamaan linier dua variabel siswa kelas VIIIB MTs Al- Ma’arif 01 singosari kabupaten Malang Tahun pelajaran 2011/2012.

Hasil peningkatan pemahaman materi menyelesaikan sistem persamaan linier dua variabel dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif model numbered head together siswa kelas VIIIB MTs Al-Ma’arif 01 Singosari Malang Tahun pelajaran 2011/2012, dapat terinci sebagai berikut;

1)      Berdasarkan hasil lembar observasi kegiatan guru, persentase keberhasilan penerapan metode kooperatif model numbered head together pada siklus I sebesar 75%, dengan taraf keberhasilan berhasil. Pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 11,66% yaitu menjadi 86,66%, dengan taraf keberhasilan sangat berhasil.

2)      Berdasarkan hasil lembar observasi terhadap kegiatan siswa, persentase keberhasilan penerapan metode kooperatif model numbered head together pada siklus I sebesar 81,78%, dengan taraf keberhasilan sangat berhasil. Pada siklus II sedikit mengalami peningkatan sebesar 2,50% yaitu menjadi 84,28%, dengan taraf keberhasilan sangat berhasil.

3)      Berdasarkan hasil lembar observasi keaktifan siswa, persentase keberhasilan penerapan metode kooperatif model numbered head together pada siklus I sebesar 80% dengan taraf keberhasilan adalah berhasil, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 3,94% yaitu menjadi 83,94%, dengan taraf keberhasilan sangat berhasil.

4)      Berdasarkan hasil catatan lapangan, dapat disimpulkan bahwa siswa sudah mengikuti pembelajaran dengan baik, dengan indikasi kelas semakin kondusif, siswa lebih aktif berdiskusi dan antusiasme siswa terhadap pembelajaran model numbered head together.

5)      Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap enam siswa setiap akhir siklus, yang terdiri dari dua siswa berkemampuan tinggi, dua siswa berkemampuan sedang, dan dua siswa berkemampuan rendah. Dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami peningkatan pemahaman dan antusias dengan metode pembelajaran model numbered head together.

6)      Hasil belajar siswa pada siklus I adalah dengan nilai rata-rata kelas 67,05 dan sekitar 66,67% siswa yang tuntas pada pembelajaran menyelesaikan sistem persamaan linier dua variabel ini. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 17,94% didapatkan nilai rata-rata kelas mencapai 77,82 dan 84,61% siswa tuntas pada pembelajaran menyelesaikan sistem persamaan linier dua variabel dengan taraf keberhasilan sangat baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abidin, Zainal. 2004. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Malang: FKIP Universitas Islam Malang.

Aqib, Zainal. 2008. Penelitian Tindakan Kelas.Bandung: Yrama Widya

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi VI.Jakarta: Rieneka Cipta.

Awangga, Suryaputra N. 2007. Desain Proposal Penelitian.Yogyakarta: Pyramid Publisher.

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Rieneka Cipta.

Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga.Jakarta: Balai Pustaka.

Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta: PT Bumi Aksara.

Hudojo, Herman. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika.Malang: Universitas NegeriMalang (UM PRESS).

Kartini, dkk. 2004. Matematika untuk Kelas X. Klaten: PT Intan Pariwara.

Mansyur, Muhammad. 2006. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Struktural Numbered Head Together Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP 06 Diponegoro Wuluhan Jember. Skripsi.Malang: Universitas IslamMalang.

Marpaung, Y. 2005. Meningkatkan Kualitas Pendidikan Matematika dengan Pembelajaran  yang Manusiawi. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Matematika, LGM FKIP Unisma, Malang, 2 April 2005.

Moleong, Lexy. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muhsetyo, Gatot. 2001. Matematika: Bahan Pelatihan IN Service Training KKG.Surabaya: Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM).

Mustangin. 2002. Dasar-dasar Pembelajaran Matematika.Malang: Universitas IslamMalang.

Nur, Mohamad. 2005. Pembelajaran Kooperatif.Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah Unesa.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004.Jakarta: PT Grasindo.

Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono, 2007. Memahami Penelitian Kualitatif.Bandung: Alfabeta.

Suhardjono. 2008. Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: PT Bumi Aksara.

Sukino, 2006. Matematika SMP Jilid 2 Untuk Kelas VIII. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2006.Malang: Universitas IslamMalang.

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif.Jakarta: PT Bumi Aksara.

Wardhani, Igak dkk., 2007. Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Universitas Terbuka.

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s