PENERAPAN STRATEGI PEMECAHAN MASALAH SOLSO UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN OPERASI BENTUK ALJABAR SISWA KELAS VII B SMP ISLAM KARANGPLOSO TAHUN PELAJARAN 2011/2012. Ahmad Imron, Zainal Abidin, Ika Ratih Sulistiani,

Abstrak: tujuan penelitan ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan strategi pemecahan masalah Solso Dalam meningkatkan hasil belajar matematka siswa kelas VII B SMP Islam Karangploso Tahun Pelajaran 2011/2012. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah: (1) Observasi dilakukan untuk mengamati segala kegiatan pembelajaran guru dan siswa dikelas, (2) Pedoman catatan lapangan dalam penelitian ini memuat deskripsi tentang aktifitas siswa dan peneliti selama pembelajaran berlangsung yang tidak terdapat dilembar observasi sehingga tidak ada data yang terlewatkan (3) Soal tes digunakan untuk menilai dan mengukur tingkat aktifitas dan hasil belajar matematika siswa pada materi operasi bentuk aljabar setiap akhir siklus (4) Wawancara dalam penelitian ini dilakukan kepada guru matematika dan siswa kelas VII B. Teknik Analisis data dalam penelitian ini menggunakan: (1) Reduksi data, dalam hal ini peneliti memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, (2) Penyajian data disini data yang sudah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk narasi deskriptif (paparan data), sehingga peneliti akan lebih mudah menarik kesimpulan, dan (3) Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi, dalam hal ini peneliti mecocokan hasil aktifitas siswa dengan hasil belajar dan aktiftas siswa dan wawancara, setelah itu baru peneliti bias menarik kesimpulan dari hasil penelitian. Kata-kata kunci: Strategi Pemecahan Masalah Solso, Hasil Belajar. 1. Pendahuluan Pendidikan merupakan fenomena kemanusiaan universal yang jika benar aktivasinya akan menumbuh kembangkan multi dimensi kemampuan dasar anak didik hingga ke titik sejatiannya. Dalam istilah ilmu pendidikan, anak didik yang mencapai kesejatiannya itu disebut manusia “berpendidikan”, “berkedidikan”, atau “berketerpelajaran”, yaitu mereka yang mampu mengoptimalkan potensi diri sebagai insan pribadi yang taat asas memposisikan diri sebagai pemegang mandat kultural dan Illahiah (Danim, 2010). Bisa dikatakan jika aktifitas proses pendidikan itu berlangsung secara benar, maka proses memanusiakan manusia akan berjalan sesuai makna filosofi pendidikan. Dan kalau proses pendidikan tidak dilakukan sebagaimana hakekatnya, maka ini adalah satu bentuk dosa sejarah orang dewasa, termasuk guru dan pendidik pada umumnya, yang gagal medewasakan anak-anak sebagai generasi bangsa. Esensi pendidikan secara universal telah berjalan sesuai peradapan dan keberadaan manusia di muka bumi ini, apa pun subtansinya dan bagaimanapun praksisnya, pendidikan telah memerankan jati dirinya sebagai pemegang kendali atas pesatnya peradapan sejarah umat manusia di muka bumi ini. Menurut Danim (2010:2) pendidikan adalah proses membimbing, melatih, dan memandu manusia terhindar atau keluar dari kebodohan dan pembodohan. Yang pada intinya merupakan proses yang bertanggungjawab subjek didik menuju manusia masa depan yang bertanggungjawab atas kemajuan bangsa. Salah satu bidang studi yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah matematika. Di mana matematika merupakan bidang studi yang menduduki peranan penting dalam bidang pendidikan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya jam pelajaran matematika di sekolah yang lebih banyak dari pelajaran lainnya. Selain itu, pelajaran matematika diberikan disemua jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan sebagian di Perguruan Tinggi (PT), tidak seperti halnya dengan mata pelajaran yang lain yang hanya diberikan pada jenjang tertentu. Matematika diajarkan karena dapat menumbuhkembangkan kemampuan bernalar yaitu berfikir sistematis, logis dan kritis dalam mengkomunikasikan gagasan atau ide dalam memecahkan masalah. Kekurangmampuan siswa menyebabkan lebih banyak tergantung pada bantuan guru. Tanpa bimbingan, siswa akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya. Jadi, guru sangat diperlukan pada saat siswa belum mampu mandiri pada awal pertemuan. Dalam proses belajar, kita tidak bisa serta-merta menanggalkan peran guru sebagai pemegang kendali dalam pelaksanaan pembelajaran dilapangan. Bila di telusuri lebih dalam lagi, proses belajar mengajar yang merupakan inti dari proses pendidikan formal disekolah. Lebih lanjut Ali (2008:4-6) menjelaskan peran guru dapat kita kelompokan tiga macam peranan yang wajib dimiliki seorang guru, yaitu: 1) Merencanakan Seorang guru harus merencanakan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan dan diterapkan dikelas, sehingga tercipta situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan yang diharapkan. 2) Melaksanakan Pengajaran Pelaksanaan pengajaran selayaknya berpegang pada apa yang tertuang dalam perencanaaan. Oleh sebab itu guru harus peka terhadap berbagai situasi yang dihadapi, sehingga dapat melakasanakan proses pembelajaran sesuai dengan yang di harapkan. 3) Memberi Balikan Menurut Stone dan Nielson (dalam Ali, 2008:6), balikan mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat dan antusias dalam melaksanakan tugas belajar. Pembelajaran merupakan suatu proses yang tidak hanya sekedar menyerap informasi dari pendidik, tetapi melibatkan berbagai kegiatan atau tindakan yang harus dilakukan terutama jika menginginkan hasil belajar yang lebih baik. Metode dalam pembelajaran pada hakikatnya merupakan cara yang teratur dan terstruktur yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran dan memperoleh suatu hasil. Menurut Wena (2010:52) pada dasarnya model pembelajaran berbasis masalah di pandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat di terapkan dalam mengatasi situasi yang baru. Lebih dari itu pemecahan masalah tidak sekedar sebagai bentuk menerapkan aturan-aturan yang telah dikuasai melalui kegiatan-kegiatan belajar terdahulu, melainkan lebih dari itu, pemecahan masalah merupakan proses untuk mendapat seperangkat aturan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru matematika kelas VII SMP Islam Karangploso, bahwa dikelas VII SMP Islam Karangploso terdiri dari empat kelas, dan peneliti disarankan untuk melakukan penelitian dikelas VII B. Menurut guru matematika, sebagian besar siswa kelas VII, khususnya kelas VII B mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran matematika, hanya siswa-siswa tertentu yang mau berpendapat, minat siswa terhadap matematika masih rendah. Dari hasil tes awal ini diperoleh rata-rata nilainya adalah 49,63. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika kelas VII B, diperoleh beberapa faktor, yaitu: 1) Kurangnya interaksi antara guru dan siswa. Hal ini dapat dilihat dari jarangnya siswa mengajukan pertanyaan selama proses belajar-mengajar berlangsung. 2) Kurangnya interaksi antara siswa dengan siswa. Ini terjadi karena guru lebih banyak memberi tugas individu. Sehingga siswa memecahkan masalah seorang diri. 3) Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran masih kurang. Hal ini karena pembelajaran didominasi oleh guru, dan siswa merasa pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit. Sehingga minat siswa dalam mengikuti pelajaran matematika menjadi kurang. Wena (2009:56) mengemukakan bahwa Srategi pemecahan masalah Solso terdiri atas enam langkah yaitu: (1). Identifikasi masalah; (2). Representasi masalah; (3). Perencanaan masalah; (4). Menerapkan/ mengimplementasikan perencanaan; (5). Menilai perencanaan; (6). Menilai hasil pemecahan. Jadi didalam strategi pemecahan masalah Solso siswa harus dapat memahami pokok permasalahan yang ada. Strategi pemecahan masalah Solso diterapkan pada materi operasi bentuk aljabar karena berkaitan erat dengan kehidupan siswa sehari-hari. Hal ini tentu memberikan kesempatan yang luas bagi guru untuk melakukan pengaitan antara pengalaman yang sudah dimiliki siswa dengan materi yang akan diajarkan oleh guru dikelas. Oleh sebab itu, peneliti memandang perlu melakukan penelitian tentang “Penerapan Strategi Pemecahan Masalah Solso Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Operasi bentuk Aljabar Siswa Kelas VII B SMP Islam Karangploso Tahun Pelajaran 2011/2012”. 2. Pembahasan dan Hasil Penelitian Dari hasil wawancara dengan guru matematika sebelum mengadakan penelitian diketahui bahwa siswa kelas VII B SMP Islam Karangploso merupakan siswa dengan kemampuan heterogen dan tidak banyak siswa yang tertarik dengan matematika sehingga pembelajaran dalam kelas dapat dikategorikan pasif. Berdasarkan kondisi di atas, maka peneliti merencanakan pembelajaran matematika dengan menerapkan strategi pemecahan masalah Solso, hal ini dilakukan peneliti untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII B SMP Islam Karangploso tahun pelajaran 2011/2012. Dari uraian di atas, peneliti merencanakan pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan strategi pemecahan masalah Solso yang terdiri dari enam tahap; yaitu: a) Tahap identifikasi Permasalahan: Guru memberi permasalah pada siswa. Pada tahap ini, mula-mula guru memberikan pertanya yang berkaitan dengan materi operasi hitung aljabar. Setelah siswa mendapatkan pertanyaan, guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. b) Penyajian Permasalahan: Guru membantu siswa untuk merumuskan dan memahami masalah secara benar. Pada tahap ini guru mengajak siswa untuk berfikir dan menemukan poin dari pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Setelah itu guru juga membantu siswa merumuskan dari pertanyaan yang telah diajukan guru dengan benar c) Perencanaan pemecahan: guru membimbing siswa melakukan perencanaan pemecahan masalah Pada tahap ini, setelah siswa menemukan kata kunci dari soal yang telah diajukan oleh guru, selanjutnya guru membimbing siswa untuk merencanakan pemecahan soal yang telah diajukan. Dengan cara membuat coretan dalam kertas agar mudah difahami dan di ingat. d) Mengimplementasikan Perencanaan: Guru membimbing siswa menerapkan perencanaan yang telah dibuat Pada tahap ini. Guru membimbing siswa untuk menerapkan perencanaan yang telah dibuat dengan cara, guru mendatangi siswa dan membimbingnya langsung. e) Menilai Perencanaan: Guru membimbing siswa dalam melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah Pada tahap ini, setelah siswa mengimplementasikan pemecahan soal yang telah diajukan oleh guru, maka siswa dibimbing untuk menilai perencanaannya apakah sudah benar atau belum. f) Menilai Hasil Pemecahan: Guru membimbing siswa melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan Pada tahap yang terakhir ini guru meminta siswa untuk menilai hasil dari pertanyaan yang telah diajukan oleh guru. Adapun hasil analisis data penerapan pendekatan pembelajaran strategi pemecahan masalah Solso dalam penelitian ini, dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Hasil Belajar Siswa Berdasarkan deskripsi penelitian mengenai hasil belajar siswa, dapat dikatakan bahwa ketuntasan belajar siswa sudah tercapai, karena terdapat 80% siswa dalam kelas yang mendapat skor ≥65. Skor 65 merupakan standar ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan sekolah. Keberhasilan dalam proses belajar siswa dapat diungkap melalui hasil belajar siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudjana (2008:22) yang mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar ini dapat diukur dengan memberikan tes. Tes ini digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dapat dilihat bahwa hasil belajar dengan penerapan strategi pemecahan masalah Solso sudah cukup baik, hal ini terbukti dari hasil belajar siswa telah mencapai 56,66%, namun prosentase ini belum memenuhi kriteria yang ditetapkan, yaitu 75% siswa mendapat nilai . Setelah mendapat pembelajaran pada siklus II, prosentase ini mengalami peningkatan 23,34% menjadi 80% dengan taraf keberhasilan baik. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pemecahan masalah Solso dapat meningkatkan hasil belajar. 2) Aktivitas Siswa dengan Pendekatan Strategi Pemecahan Masalah Solso Di dalam penelitian ini, peneliti dibantu oleh dua observer mengamati aktivitas belajar siswa, karena aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar-mengajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Dimyati dan Mudjiono (2006:45) yang menyatakan bahwa keaktivan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Peneliti memilih aktifitas fisik karena aktivitas tersebut mudah diamati oleh peneliti dan observer pada saat proses pembelajaran. Dari hasil keseluruhan pengamatan yang dilakukan pada siklus I. Aktivitas belajar siswa telah mencapai 83,89% yang berarti baik. Prosentase tersebut sudah memenuhi prosentase kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu siswa aktif dalam pembelajaran. Namun, pada siklus II, aktivitas siswa meningkat 13,44% menjadi 97,33% yang berarti sangat baik. 3) Aktivitas Guru dalam Menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Solso Kegiatan guru dalam menerpakan strategi pemecahan masalah Solso ada enam langkah, adapun langkah-langkah penerapan dikelasa sebagai berikut: a) Guru mengajukan permasalah dalam bentuk pertanyaan b) Guru mengajak siswa untuk berfikir dan merumuskan pertanyaan yang telah diajukan. Sebelum melakukan perencanaan untuk menjawab pertanyaan tadi dengan cara siswa melakukan telaah soal yang sudah ditulis di kertas c) Guru meminta siswa untuk merencanakan pemecahan masalah yang telah diberikan oleh guru d) Guru membantu siswa menerapkan perencanaanya yang telah dibuat untuk memecahkan masalah yang telah diberikan guru e) Guru membimbing siswa utuk menilai atau mencermati dari rumusan pemecahan yang telah dibuat apakah sudah benar apa belum f) Guru menugaskan siswa untuk menilai hasil dari jawaban soal yang telah dikerkajan. Dari hasil keseluruhan pengamatan yang dilakukan, pada siklus I sudah mencapai 82,06% yang berarti sudah baik. Sedangkan pada siklus II meningkat 12,22 % menjadi 94,28 yang berarti sangat baik. Pada siklus I pembelajaran yang dilakukan peneliti sudah bagus, tapi masih ada beberapa kekurangan yang dilakukan peneliti, seperti: Peneliti masih kurang mampu mengkondisikan siswa yang berbuat gaduh atau ramai. Peneliti kurang mampu merangsang siswa agar aktif bertanya dan diskusi. Namun, pada siklus II peneliti sudah mampu mengkondisikan siswa sehingga proses belajar mengajar berjalan lancar. 3. Kesimpulan dan Penutup Berdasarkan hasil penelitian dari serangkaian kegiatan tindakan pembelajaran yang mencakup empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi dalam penelitian ini dapat sebagai berikut: 1) Penerapan strategi pemecahan masalah Solso dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan operasi bentuk aljabar siswa kelas VII B SMP Islam Karangploso Malang dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Tahap identifikasi permasalahan: guru memberi permasalah pada siswa. Pada tahap ini, mula-mula guru memberikan pertanya yang berkaitan dengan materi operasi hitung aljabar. Setelah siswa mendapatkan pertanyaan, guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. b) Penyajian permasalahan: guru membantu siswa untuk merumuskan dan memahami masalah secara benar. Pada tahap ini guru mengajak siswa untuk berfikir dan menemukan poin dari pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Setelah itu guru juga membantu siswa merumuskan dari pertanyaan yang telah diajukan guru dengan benar c) Perencanaan pemecahan: guru membimbing siswa melakukan perencanaan pemecahan masalah Pada tahap ini, setelah siswa menemukan kata kunci dari soal yang telah diajukan oleh guru, selanjutnya guru membimbing siswa untuk merencanakan pemecahan soal yang telah diajukan. Dengan cara membuat coretan dalam kertas agar mudah difahami dan di ingat. d) Mengimplementasikan perencanaan: guru membimbing siswa menerapkan perencanaan yang telah dibuat Pada tahap ini. Guru membimbing siswa untuk menerapkan perencanaan yang telah dibuat dengan cara, guru mendatangi siswa dan membimbingnya langsung. e) Menilai perencanaan: guru membimbing siswa dalam melakukan penilaian terhadap perencanaan pemecahan masalah Pada tahap ini, setelah siswa mengimplementasikan pemecahan soal yang telah diajukan oleh guru, maka siswa dibimbing untuk menilai perencanaannya apakah sudah benar atau belum. f) Menilai hasil pemecahan: guru membimbing siswa melakukan penilaian terhadap hasil pemecahan Pada tahap yang terakhir ini guru meminta siswa untuk menilai hasil dari pertanyaan yang telah diajukan oleh guru. 2) Dari hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian dapat diketahui bahwa a) Hasil belajar siswa pada siklus I, dengan nilai rata-rata kelas 63,96 dan persentase ketuntasan belajar 56,66% belum mencapai SKBM yang telah ditentukan yaitu ≥75% siswa mendapat nilai 65. Dari hasil tersebut sehingga perlu diadakan tindakan lagi pada siklus berikutnya. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 70,8 dengan persentase ketuntasan belajar siswa 80%. b) Hasil observasi kegiatan guru dan siswa dalam penelitian ini adalah: 1) Aktifitas kegiatan siswa Dari hasil aktifitas siswa yang dilakukan oleh observer pada siklus I kegiatan siswa sudah mencapai kriteria yang telah ditetapkan yaitu ≥75% dengan prosentase tindakan 83,89% berarti taraf keberhasilannya baik. Sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 97,33 dengan taraf keberhasilan sangat baik. 2) Aktifitas kegiatan guru Dari hasil observasi aktifitas kegiatan guru yang dilakukan oleh observer pada siklus I kegiatan guru sudah mencapai kriteria yang telah ditetapkan yaitu ≥75% dengan prosentase tindakan 82,06% berarti taraf keberhasilannya baik. Sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 94,28 dengan taraf keberhasilan sangat baik c) Hasil catatan lapangan siswa menunjukkan respon yang baik terhadap proses pembelajalaran berlangsung dan mampu bersikap baik dan aktif dalam kelas. d) Hasil wawancara juga menunjukkan 83,33% dari objek yang mewakili 30 siswa merasa senang dengan penerapan strategi pemecahan masalah Solso. DAFTAR RUJUKAN Ali, Muhammad. 2008. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Amir, Taufiq. 2010. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana Prenada Group Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya Aqib, Z. 2006. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru. Bandung: YramaWidya. Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya Arikunto, Suharsimi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: Bumi Aksara Budiningsih, Asri.2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta Denim, Sudarwan. 2010. Pengantar Pendidikan. Bandung: Alfabeta Hudojo, Herman. 2005. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang (UM Press) Iskandar. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Ciputat: Gaung Persada Pers Majid, Abdul. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya Moleong, lexi j. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Mujiono dan Dimyati. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Mulyasa. 2010. Praktik penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mustangin.2002. Dasar-dasar Pembelajaran Matematika. Modul Tidak Diterbitkan. Malang. Universitas Islam Malang Sardiman. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers Siregar, Eveline. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Ghalia Indonesia Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rajawali Pers Sudirman. 2007. Matematika Untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Ganeca. Sumardono. 2004. Karakteristik Matematika Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Matematika. Jogjakrta Sugiono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif.Sidoarjo: Media Buana Pustaka Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kotemporer. Jakarta: Bumi Aksara

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s