PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRASI DENGAN LEMBAR KERJA SISWA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIKA SISWA PADA POKOK BAHASAN GRADIEN SISWA KELAS VIII B MTS ALMAARIF 01 SINGOSARI MALANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRASI DENGAN LEMBAR KERJA SISWA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIKA SISWA PADA POKOK BAHASAN GRADIEN SISWA KELAS VIII B MTS ALMAARIF 01 SINGOSARI MALANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012
Harianto, Zainal Abidin, dan Ika Ratih Sulistiani

Penelitian tindakan kelas ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran demontrasi dengan lembar kerja siswa untuk meningkatkan pemahaman siswa pada pokok bahasan gradien siswa kelas VIII B MTs ma’arif 01 Singosari kabupaten Malang Tahun pelajaran 2011/2012.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis penelitian tindakan kelas model partisipan dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VIII B tahun pelajaran 2011/2012. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa hasil observasi, hasil wawancara, dan hasil catatan lapangan dengan analisis data yang digunakan yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Sedangkan data kuantitatif berupa hasil tes akhir siklus dengan analisis data dari perolehan rata-rata kelas dan nilai persentase jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran yaitu siswa yang mendapat nilai ³ 70. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) tes; 2) Observasi; 3) wawancara; dan 4) catatan lapangan.

Kata kunci:demonstrasi,LKS, pemahaman.
Pendahuluan
Pendidikan formal yang lazim disebut sekolah, merupakan komponen penting dari tiga pola pendidikan untuk melahirkan generasi-generasi yang memiliki pemahaman akan diri sendiri dan diluar dirinya. Lembaga-lembaga pendidikan formal yang berjenjang dan sistematis menjadi kunci terlaksananya proses pembelajaran. Didalam lembaga pendidikan formal terdapat sistem yang teratur guna mewujudkan sebuah tujuan pendidikan.
Menurut Sanjaya (2006:49) sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan pembelajaran dikatakan sebagai suatu sistem karena pembelajaran adalah kegiatan yang bertujuan, yaitu membelajarkan siswa. Proses pembelajaran dalam konteks pendidikan formal membutuhkan banyak komponen yang mendukungnya.
Dalam undang-undang No.20/2003 Bab I pasal 1 ayat (17) dikemukakan bahwa “Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Standar nasional pendidikan bukan hanya mengatur tentang standar isi, tetapi juga standar proses, kompetansi kelulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan (Arifin 2009:42). Komponen-komponen pendidikan seperti itu yang selanjutnya berkonsekuensi melahirkan pola pembelajaran disekolah yang maksimal.
Namun menjadi ironi ketika tidak semua sekolah mampu melengkapi komponen-komponen itu dengan sempurna. Banyak sekolah yang masih berada dibawa standar Nasional diatas, yang salah satunya adalah tenaga kependidikan atau guru. Guru menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Kemampuan mengelola proses pembelajaran dikelas dibutuhkan secara mutlak oleh guru guna terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan tidak membosankan. Untuk menciptakan situasi kelas yang efektif dan tidak membosankan tentunya dibutuhkan kecakapan khusus dari guru. Seperti yang disampaikan Joni (Dalam Dimyati dan Mujiono, 2009 : 287) bahwa, Guru adalah orang yang tahu persis situasi dan kondisi diterapkannya kurikulum yang berlaku. Selain itu guru bertanggung jawab atas terciptanya hasil belajar yang diinginkan.
Dalam proses pembelajaran dikelas khususnya mata pelajaran matematika masih sering dijumpai masalah-masalah terkait mata pelajaran ini. Seperti, masih minimnya motivasi siswa, yang berakibat rendahnya nilai yang diperoleh. Permasalahan semacam ini memang sudah menjadi masalah yang klasik. Maka menjadi sebuah keharusan guru selalu aktif mencari terobosan baru terkait dengan metode yang diajarkan dikelas. Karena mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting dengan tidak mengsampingkan mata pelajaran yang lain.
Oleh karena itu, pendekatan metode pembelajaran yang bisa menyelesaikan permasalahan diatas sangat diperlukan. Ada banyak metode pembelajaran yang terdapat diberbagai sumber untuk digunakan dalam proses pembelajaran dikelas. Salah satunya adalah metode demonstrasi yang sengaja peneliti akan gunakan dalam penelitian. Metode demonstrasi ini merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan (Sanjaya, 2006: 52). Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses, serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan. Metode demonstrasi Menurut Bahri & Zain (2006: 91) memiliki kelebihan dalam proses pembelajaran yaitu, Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih kongkret, sehingga menghindari verbalisme (pemahaman secara kata-kata atau kalimat), Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari, Proses pengajaran lebih menarik, Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dan kenyataan, dan coba untuk melakukannya sendiri. Dalam demonstrasi diharapkan setiap langkah pembelajaran dari hal-hal yang didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan mudah oleh murid dan melalui prosedur yang benar dapat pula dimengerti materi yang disajikan.
Melihat konsep dari metode pembelajaran demonstrasi diatas, serta merujuk dari hasil penelitian Khoiriyah (2008), tentang penerapan metode demonstrasi yang mampu meningkatkan kegiatan pembelajaran dikelas, maka peneliti memiliki keyakinan bahwa metode tersebut bisa diterapkan diinstitusi sekolah yang lain dengan permasalahan yang hampir sama. Institusi sekolah dalam hal ini adalah MTs Almaarif 01 singosari.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan seorang guru MTs Almaarif 01 Singosari Malang, didapatkan informasi tentang ulangan harian siswa kelas VIII B tahun pelajaran 2011/2012 yang tergolong rendah dibanding kelas yang lain. Dengan indikator prosentase ketuntasan siswa pada ulangan harian yang didapat hanya 33%. Selain itu juga metode yang dipakai guru dalam mengajar cenderung konvensional dengan dominasi ceramah, sehingga berpotensi siswa bosan dan berpangaruh pada pemahaman siswa. Hal ini mengakibatkan siswa yang merasa bosan dengan proses pembelajaran yang terlalu didomonasi guru tanpa melibatkan siswa secara maksimal, siswa akan merasa mata pelajaran itu sulit.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti berminat untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Metode Pembelajaran Demontrasi Dengan Lembar Kerja Siswa Untuk Meningkatkan Pemahaman Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Gradien Siswa Kelas VIII B MTs Ma’arif 01 Singosari Malang, Tahun Pelajaran 2011/2012”.
Metode
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Alma’arif 01 Singosari pada siswa kelas VIII B semester Ganjil tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 39 siswa pada minggu kedua dan ketiga bulan november 2011. Pokok bahasan menjadi fokus pada penelitian ini adalah persamaan garis lurus dengan sub bab gradien.
Didalam penelitian ini, peneliti menggunakan model penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian berlangsung dalam 2 siklus. Setiap siklus ada 3 pertemuan, pertemuan ketiga yaitu tes akhir siklus. Setiap siklus terdapat langkh-langkah sebagai berikut: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Pengamatan tindakan,(4) Refleksi.
Pada siklus I, langkah-langkah penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah seagai berikut: (1) Guru membagikan LKS yang telah disusun sebelumnya,(2)Guru memulai demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merancang siswa untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi, menerangkan unsur-unsur gradien pada alat peraga, (3)Guru menciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan, (4)Guru aktif mengawasi semua siswa ketika proses demonstrasi berjalan dengan memperhatikan reaksi seluruh siswa, (5)Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu,(6)Pemantapan oleh guru,(a)Melakukan pembahasan soal-soal dalam LKS secara menyeluruh, (b)Meminta setiap siswa untuk mengumpulkan setiap hasil pekerjaannya, (c)Memberikan tugas rumah kepada siswa berupa karya berkaitan dengan materi gradien.
Pada siklus II, langkah-langkah sama seperti siklus I. Hanya saja guru lebih ditekankan untuk memahami dan melaksakan setiap langkah dengan baik.
Didalam penelitian ini, indikator keberhasilan yang dijadikan pedoman adalah pemahaman matematika sisa pada pokok bahasan gradien. Tindakan akan dianggap berhasil apabila “terdapat ³ 75% siswa mendapat nilai tes soal ≥ 70, dan hasil observasi kegatan guru dan siswa ≥80% “. jika tidak demikian, maka penelitian dianggap belum berhasil dan dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Sehubungan dengan indikator keberhasilan tersebut, data yang dikumpulkan didalam penelitian ini adalah data kualitatif kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dengan cara pengamatan oleh bantuan 2 observer, sedangkan data kuantitatif diperoleh dengan cara pemberian soal tes kepada siswa tentang materi gradien.
Mengingat penelitian ini bertujuan ntuk mendiskripsikan metode pembelajaran, maka disamping data yang diperoleh dari observasi juga dengan menggunakan catatan lapangan dan wawancara terhadap siswa. Data tersebut untuk pertimbangan analisis dan refleksi, dan menentukan perubahan tindakan yang diperlukan.
Hasil dan Pembahasan
Berikut disajikan data dan pembahasannya dari setiap siklus.
Siklus I
Tabel 1: Hasil observasi Kegiatan Guru dan siswa Siklus I
observasi Prosentase Keberhasilan Tindakan Nilai dengan Huruf Nilai dengan Angka Taraf keberhasilan
Guru 77,5% B 4 Baik
Siswa 79.00% B 4 Baik

Tabel 2: Hasil Tes Akhir pada Pelaksanaan Siklus I

No Hasil Tes Akhir Jumlah
1 Rata-rata nilai siswa 68,93
2 Jumlah siswa yang tuntas 24
3 Jumlah siswa yang tidak tuntas 15
Prosentase ketuntasan 61,53%

Dari tabel 1, data di atas dapat diketahui bahwa kegiatan siswa selama proses pembelajaran belum memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan, yaitu 80% siswa aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peneliti perlu memberikan tindakan pada siklus selanjutnya.
Sedangkan berdasarkan Tabel 2, di atas dapat diketahui bahwa rata-rata nilai siswa adalah 68,92. Dari hasil tes akhir pada siklus I ini diperoleh prosentase ketuntasan belajar siswa sebesar 61,53% , sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 15 siswa atau 38,47%. Dari prosentase ketuntasan belajar tersebut, belum memenuhi standar ketuntasan yang telah ditetapkan, yaitu siswa memperoleh nilai sehingga peneliti perlu memberikan tindakan pada siklus berukutnya.
Selanjutnya peneliti mengadakan pertemuan untuk melakukan analisis dan refleksi. Dari refleksi siklus I ini ada ditemukan beberpa hal sebagai berikut yang harus diperbaiki:(1)Kurang maksimalnya guru dalam menerapkan metode demonstrasi sehingga mengakibatkan: (a) Masih ada siswa yang berbuat gaduh atau ramai saat proses pembelajaran, (b) Banyak siswa yang kurang aktif dalam bertanya, (c) Masih banyak siswa yang kurang memahami materi. (2) Dari rata-rata hasil tes yang diberikan 61,53% siswa tuntas dan persentase ini belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu ≥75% siswa mendapat nilai dikarenakan masih banyak siswa yang belum mampu mengerjakan soal dengan baik. (3) Prosentase aktivitas siswa telah mencapai 79% dengan taraf keberhasilan dapat dikategorikan baik. Hal ini belum memenuhi taraf keberhasilan yang ingin dicapai yaitu 80% siswa aktif. (4) Prosentase aktivitas guru telah mencapai 77,5% dengan taraf keberhasilan dapat dikategorikan baik. Hal ini belum memenuhi taraf keberhasilan yang ingin dicapai yaitu 80%. (5) Dari hasil catatan lapangan dan wawancara dengan beberapa siswa, masih banyak siswa yang masih kurang antusias terhadap pembelajaran matematika, sehingga hasil belajar siswa rendah.
Siklus II
Tabel 3: Hasil observasi Kegiatan Guru dan siswa Siklus I
observasi Prosentase Keberhasilan Tindakan Nilai dengan Huruf Nilai dengan Angka Taraf keberhasilan
Guru 90,6% A 5 Sangat Baik
Siswa 88,9% A 5 Sangat Baik

Tabel 4: Hasil Tes Akhir Siklus II

No Hasil Tes Akhir Jumlah
1 Rata-rata nilai siswa 78,45
2 Jumlah siswa yang tuntas 34
3 Jumlah siswa yang tidak tuntas 5
Prosentase ketuntasan 87,17%
Berdasarkan data-data yang dihasilkan dari siklus II, di mana refleksi sendiri dapat ditentukan setelah mengetahui hasil observasi, catatan lapangan dari observer, dan hasil tes akhir siklus. Selanjutnya peneliti dapat menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:(1) Hasil tes pada siklus II mencapai rata-rata 78,45 dengan prosentase ketuntasan 87,17% siswa memperoleh nilai . Prosentase ini sudah memenuhi kriteria keberhasilan yang ingin dicapai yaitu ≥75%. (2) Prosentase aktivitas siswa pada siklus II ini telah mencapai 88,9% yang berarti taraf keberhasilan dapat dikategorikan sangat baik. (3) Prosentase aktivitas guru pada siklus II ini telah mencapai 90,6% yang berarti taraf keberhasilan dapat dikategorikan sangat baik.(4) Respon siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran demonstrasi terlihat lebih serius hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya hal-hal negatif siswa. (5) Dengan adanya motivasi dan strategi penambahan poin membuat siswa lebih aktif dalam bertanya.
Jika dilihat ketuntasan belajar siswa sudah mencapai 87,17% atau sebanyak 34 siswa yang telah tuntas dan siswa yang tidak tuntas hanya 5 siswa atau 12,83%.
Setelah melihat uraian data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses pada siklus II telah mencapai keberhasilan. Jadi penelitian telah selesai, tanpa harus diadakan tindakan selanjutnya.
Simpulan dan Saran
Adapun tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran demontrasi dengan lembar kerja siswa untuk meningkatkan pemahaman matematika siswa pada pokok bahasan gradien siswa kelas VIII B MTs Almaarif 01 Singosari Malang Tahun pelajaran 2011/2012.
Dari hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Penerapan pendekatan pembelajaran demonstrasi dengan LKS untuk meningkatkan pemahaman matematika siswa pada pokok bahasan gradien siswa kelas VIII B MTs Almaarif 01 Singosari kabupaten Malang Tahun pelajaran 2011/2012 secara umum dibagi dalam empat tahap, yaitu: (a) Tahap pertama ; yaitu guru membagikan LKS sebagai pendukung pembelajaran demonstrasi, kemudian siswa disuruh membaca dan memahami.(b) Tahap Kedua; yaitu guru memberikan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi gradien yang bertujuan merangsang siswa.
Tahap Ketiga; yaitu guru mendemonstrasikan materi gradien. (d) Tahap Keempat; guru memberikan tugas kepada siswa membuat karya gambar yang memuat unsur gradien. Pada tahap ini guru menguji pemahaman siswa melalui pemberian tugas berupa karya gambar yang memuat unsur gradien didalamnya. (2) Penerapan pendekatan pembelajaran demonstrasi dengan LKS terhadap gradien dapat dilihat dari aktivitas guru dan siswa. (a) Dari hasil observasi tehadap guru pada siklus I telah mencapai 77,5%. Prosentase ini mengalami peningkatan pada siklus II, menjadi 90,6%. Sedangkan kegiatan siswa dalam pembelajaran pada siklus I mencapai 79% dengan taraf keberhasilan baik. Setelah diberikan tindakan pada siklus II, kegiatan siswa meningkat 9,9% menjadi 88,9% dengan taraf keberhasilan sangat baik. Prosentase ini sudah memenuhi kriteria taraf keberhasilan yang telah ditetapkan, yaitu 80% proses pembelajaran terlaksana. (b) Setiap akhir siklus, peneliti selalu memberikan tes. Tes ini digunakan untuk menilai dan mengukur pemahaman siswa. Berdasarkan nilai tes akhir siklus I diperoleh prosentase ketuntasan, yaitu 61,53%, namun prosentase ini belum memenuhi kriteria yang ditetapkan, yaitu 75% siswa mendapat nilai . Dari hasil ini dapat diketahui bahwa masih banyak siswa yang belum mampu menyelesaikan soal-soal terkait dengan indikator pemahaman. Setelah mendapat pembelajaran pada siklus II, prosentase ini mengalami peningkatan 25,64% menjadi 87,17% dengan taraf keberhasilan sangat baik. (c) Berdasarkan hasil catatan lapangan, dapat disimpulkan bahwa siswa sudah mengikuti pembelajaran dengan baik, dengan indikasi kelas semakin kondusif, siswa lebih aktif bertanya dan antusiasme siswa terhadap metode demonstrasi dengan LKS. (d) Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap empat siswa setiap akhir siklus, dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami peningkatan pemahaman dan antusias dengan metode pembelajaran demonstrasi.
Berdasarkan uraian simpulan, beberapa saran yang dapat dikemukakan adalah sebagi berikut: (1) Bagi Kepala sekolah, Sebagai sumbangan pikiran dalam memilih salah satu strategi pembelajaran agar tercipta kegiatan pembelajaran yang lebih aktif. Dan juga agar meningkatkan keterampilan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran demonstrasi. (2) Bagi guru bidang studi Disarankan untuk menjadikan strategi pembelajaran demonstrasi dengan menggunakan alat peraga yang lebih variatif dan menarik bagi siswa sebagai salah satu strategi pembelajaran alternatif untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa. (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar dapat mengembangkan penelitian penerapan pendekatan pembelajaran demonstrasi pada materi yang lainnya.
Daftar Rujukan
Abidin, Zainal. 2004. Pentingnya Pemahaman Konseptual dan Prosedural dalam Belajar Matematika. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Malang: FKIP Universitas Islam Malang.

Adinawan, M.Cholik & Sugijono. 2006. Matematika untuk SMP Kelas VIII Semester 1. Jakarta: Erlangga.

Arikunto, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung: Yrama Widya.

Budiningsih,C.Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri & Zain, Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Hamzah. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif: Bumi Aksara.

Hasibuan. 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hudojo, Herman. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang (UM Press).
Khoiriyah, Ulfatin . 2008. Penerapan Metode Pembelajaran Demonstrasi untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIB SMP Islam Karangploso Tahun Pelajaran 2007/2008”. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Moleong, L. J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhsetyo, Prof. Drs. M.Sc. 2006. Pembelajaran Matematika Berdasarkan KBK. Makalah ini Disampaikan pada Saat Kuliah Tamu Oleh Dep. Pend Matematika di Gedung Oesman Mansoer, Unisma. Malang 4 Januari 2006.

Mudjiono & Dimyati. 2009. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Mulyasa, E. 2009. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mustangin. 2002. Dasar-dasar Pembelajaran Matematika. Modul tidak diterbitkan. Malang: Unversitas Islam Malang.

Nursena. 2007. Pengaruh Penggunaan Lembar Kerja Siswa. Jakarta: Erlangga.

Riduwan dan Akdon. 2005. Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistika. Bandung: Alfabeta.

Sagala, Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Simangunsong, Wilson & Sukino. 2006. Matematika SMP Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Sudjana, Nana. 2006. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan. Bandung: Alfabeta

Susilo, Herawati., Chotimah, Khusnul., dan Dwita S, Yuyun. 2009. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Sarana Pengembangan Keprofesionalan Guru dan Calon Guru.Malang: Bayumedia

Tabatai. 2009. Implementasi pendekatan keterampilan proses melalui pemanfaatan LKS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s